Analisa Teoritis Normatif Multilevel Marketing dalam Perspektif Muamalah (Tulisan Terakhir)

Oleh : Drs. Mohamad Hidayat, MBA, MH (Dewan Pengawas Syariah Ahad-Net)

Kelanjutan dari posting sebelumnya:

Untuk mengkaji secara cermat bagaimana pandangan Islam mengenai status hukum Multilevel Marketing serta analisa menyeluruh atas mekanisme dan system itu. Kita dapat memfilternya berdasarkan pedoman-pedoman dasar di bawah ini.
§ Sesungguhnya Islam mendorong umatnya untuk memperoleh kesuksesan hidup. Bahkan menganjurkan agar tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup, tetapi juga dapat meraih “kelebihan (fadlan)”.
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (fadlan/rizqi) hasil perniagaan dengan Tuhanmu”. (QS Al Baqarah 2:198).
§ Islam mengakui bahwa kuantitas rizqi umatnya terkonsentrasi pada perdagangan dan bisnis. Untuk itu, Islam memberikan perhatian yang cukup besar pada masalah perdagangan. Al Quran bahkan dengan sengaja menyampaikan kehalalan hukum jual beli. Dengan dasar ini, dapat dipetik pesan “Umat Islam diperintahkan berdaganga/berbisnis agar memperoleh kemapanan ekonomi.”
“Sesungguhnya 90% rizqi umatku ada dalam perdagangan dan jual beli.” (HR. Ahmad).
“…Dan sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli..” (QS Al Baqarah 2:275).
§ Kegiatan perdagangan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas komersial an sich, tetapi ia juga merupakan wujud dari ibadah dalam pengertian luas yang meliputi saling ta ‘arruf, silaturrahim dan interaksi ihsan. Untuk itu syariah sangat mendukung apabila unsur-unsur itu tampil menjadi strategi dalam melakukan kegiatan dagang tersebut.
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu”. (QS Adz Dzaariyaat 51:56).Dalam system multilevel marketing, unsur-unsur di atas sesungguhnya sangat melekat.
Dan apabila seseorang berhasil di bisnis ini, maka ia akan memiliki waktu luang yang lebih banyak (kegiatan kerja akan menurun, sementara penghasilan meningkat) yang dapat Anda pergunakan untuk keluarga, untuk kegiatan social ataupun ataupun untuk melakukan ibadah dan amal shaleh lainnya.
§ Islam juga memahami bahwa perkembangan budaya bisnis akan berjalan begitu cepat dan dinamis. Untuk itu secara kondusif Islam memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan improvisasi dan inovasi mengenai system, teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan. Adagium ushul fiqh menyatakan:
“Hukum dari muamalah (termasuk dagang) dan segala kontrak serta hal-hal yang berkenaan dengannya adalah halal selama tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.”
§ Strategi multilevel marketing (MLM) sebagai metode pemasaran secara berperingkat (levelisasi) dinilai oleh Islam meiliki unsur-unsur silaturrahmi, dakwah dan trabiyah. Metode ini pernah digunakan Rasulullah dalam melakukan dakwah Islamiyah pada awal-awal Islam. Dakwah Islam pada saat itu dilakukan melalui teori sel, secara ketuk tular dari sahabat satu ke sahabat yang lainnya, sehingga pada satu ketika Islam dapat diterima oleh masyarakat kebanyakan. Strategi levelisasi ini juga sempat disinggung oleh Al Quran dalam pengibaratan ganjaran pahala orang berinfaq. Al Quran menyatakan: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2:216).
§ Perdagangan yang dilakukan dalam bentuk apapun termasuk strategi MLM harus memenuhi rukun jual beli serta akhlaq (etika) yang baik. Disamping itu komoditas yang dijual harus halal (bukan haram ataupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermanfaat. MLM tidak boleh memperjualbelikan produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan modus penawaran produk/promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kesusilaan.
Promosi itu sendiri merupakan suatu upaya untuk menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana sebaiknya seseorang mempromosikan barang dagangannya? Melalui Rasulullah kita mengetahui bahwa beliau itu seorang Rasul yang tidak saja memberikan petunjuk tatacara beribadah kepada Allah, tetapi beliau juga ahli di dalam sales promotion.
Padahal kita mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah sekolah apalagi kursus kewiraswastaan. Tetapi mengapa beliau bisa menasehati orang bagaimana mempromoikan barang dengan menarik? Bukankah hal ini membuktikan bahwa dia seorang rasul yang mendapat wahyu?
Dalam suatu kesempatan beliau mendapati seseorang sedang menawarkan barang dagangannya. Dilihatnya ada yang janggal pada diri orang tersebut. Bagaimana beliau menasehati orang tersebut, terungkap dalam sebuah hadits “Rasulullah lewat di depan seseorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang itu jangkung sedang baju yang ditawarkannya pendek. Kemudian Rasulullah bersabda: Duduklah! Sesungguhnya kamu menawarkan dengan duduk itu lebih mudah mendatangkan rizqi.”
Pada dasarnya kita harus mempromosikan barang dengan cara yang paling tepat, sehingga menarik minat calon pembeli. Faktor tempat meliputi desain interiror yang serasi, letak barang yang mudah dilihat dan teratur rapi, kebersihan dan sikap penjual, cara menyajikan barang harus disajikan dengan cara yang menarik, kurang menimbulkan selera calon pembeli untuk membeli barang-barang kita. Dengan kata lain, bagaimana kita dapat mengembangkan tata cara promosi yang lebih luas lagi.
Di antara tuntunan Rasulullah dalam hal promosi, diantaranya:
a. Larangan promosi dengan tipu daya (sumpah palsu)
“Abu hurairah ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: yang dinamakan berjualan dengan sumpah palsu adalah usaha untuk melariskan barang dagangannya, lagi berusaha dengan cara yang tercela.” (HR. Bukhari Muslim).
b. Larangan penawaran dan pengakuan fiktif.
Fenomena yang dapat kita tangkap misalnya seorang penjual memberikan keterangan kepada calon pembeli seolah-olah barang dagangannya sudah ditawar oleh banyak calon pembli tersebut. Padahal semuanya itu adalah fiktif belaka.
c. Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
d. Menghindari dua hal dalam melakukan promosi:
Pertama: tidak melanggar kode akhlaq karimah.
Kedua, tidak mebuat pembeli menjadi menyesal.
§ Syariah Islam sangat mencerca, apabila ativitas perdagangan yang dijalankan seseorang akan menyebabkan seseorang semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Baik dari sisi proses produksi, produk yang diperjualbelikan, distribusi, strategi pemasaran maupun pada saat menikmati hasil ataupun keuntungan dari suatu perdagangan.
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, dan dari membayar zakat….” (QS An Nuur 24:37).
Dilihat dari sisi ini, insentif, penghargaan, hadiah dan sejenisnya yang disediakan oleh perusahaan MLM bagi anggota (mitra) yang berhasil menjual produk pada jumlah atau tingkat tertentu hendaklah menghindari orientasi “hanya bersenang-senang, apalagi melupakan Tuhan”. Perusahaan MLM harus membuat kebijakan sedemikian rupa agar penghargaan itu memberi manfaat lebih yang positif bagi penerimanya.
§ Demikian pula halnya apabila perdagangan mmerlukan ikatan kerjasama dengan pihak lain. Islam mempersilahkan para pihak untuk mengikat kerjasamanya itu berdasarkan asas kebebasan berkontrak tetapi memenuhi prinsip syariah:
“Setiap muslim (terikat) pada syarat-syarat yang mereka setujui, kecuali (persyaratan yang) menghalakan sesuatu yang haram dan mengharamkan yang halal”. (Risalatul Qadla Umar Ibn Khattab).
Prinsip ini misalnya dapat diterapkan pada penetapan besarnya insentif yang diterima oleh anggta (mitra) dengan kriteria-kriteria tertentu. Namun dalam melakukan penetapan ini harus memenuhi norma-norma:
1. adil
2. terbuka
3. insentif yang diterima seseorang (up line) tidak berasal dari pengurangan hak down line-nya (tidak aniaya).
§ Kewajaran dalam memperoleh keuntungan juga merupakan suatu masalah yang diperhatikan oleh Islam. Sekalipun tidak dilakukan secara fixed besaran nominal keuntungan yang wajar dalam perdagangan, namun dengan tegas Al Quran berpesan agar pengambilan keuntungan dilakukan secara fair, saling rela dan menguntungkan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling rela di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS An Nisa 4:29).
Dalam kaitan ini sebagian masyarakat melihat adanya kecenderungan system yang dipakai MLM tertentu atas produk yang ditawarkan dinilai “mahal” atau eksklusif” sehingga kerapkali memberatkan anggota yang berada di level bawah (down line) serta masyarakat pemakai, dan menguntungkan level di atasnya (up line). Hal ini sepatutnya dihindari karena dengan cara ini, unsur “mengambil keuntungan secara bathil” telah terpenuhi.
§ Penghargaan yang diberikan kepada mereka (up line) yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya (down line), yang dengan cara bersungguh-sungguh memberikan pembinaan (tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) adalah selaras dengan jiwa agama. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa di dalam Islam berbuat sesuatu kebajikan, maka kepadanya diberi pahala serta pahala dari orang yang mengikutiya tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang berbuat keburukan maka kepadanya diberi dosa serta dosa dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun “. (Hadits).
Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya disebabkan keberhasilnnya dalam memenuhi target penjualan tentu dan melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas levelnya.
“(Besarnya) ujrah (upah) itu tergantung pada kadar kesulitan (kesungguhan)”. (kaidah ushul fiqh).
Hal yang juga patut diwaspadai dalam hal memberikan applause ataupun gathering party atas prestasi seseorang adalah eksperssi yang tidak melampaui batas. Applause yang diberikan hendaklah tidak mengesankan kultus individu, mendewakan dan sikap berlebihan sejenisnya. Karena hal ini dapat mengarahkan penerimanya menjadi takabbur, ‘ujub dan kufur pada Allah SWT. Perayaan kebahagiaan/pesta atas keberhasilan seseorang juga sepatutnya tetap dilakukan dalam koridor “tasyakur”.
§ Di samping itu sepatutnya perusahaan MLM (khususnya yang dikelola oleh kaum muslimin) memiliki misi mulia dibalik kegiatan perdagangannya itu. Di antara misi mulia itu adalah:
1. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam.
2. membentuk jaingan ekonomi umat, baik jaringan produksi, distribusi maupun konsumennya, sehingga dapat mendorong kemandirian dan kejayaan ekonomi umat.
3. memperkokoh ketahanan aqidah dari serbuan ideologi, budaya dan produk yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islami.
4. mengantisipasi dan mempersiapkan strategi dan daya menghadapi era globalisasi dan teknologi informasi.
Demikianlah point-point yang penting yang harus kita kritisi mengenai mekanisme, kebijakan dan system MLM yang berlaku di tengah masyarakat. Kita sangat merasakan manfaat kehadiran bisnis melalui jaringan startegi MLM yang dapat memberikan peluang rizqi. Terlebih dalam suasana negara tengah mengalami krisis ekonomi yang sangat serius. Sehingga melahirkan berjuta pengangguran. Namun demikian tidak berarti secara 100% kita jiplak dan ikuti kultur umum system ini. Kita memerlukan MLM. Dan kita perlu membangun MLM berwatak Islami.
Secara ringkas kiranya dapat disampaikan skema komparasi system MLM yang sesuai dengan nilai dan aturan syariah Islam dengan sisitem MLM konvensional yang kita kenal sekarang ini.
Demikianlah paparan ini disampaikan, semoga kiranya memberikan manfaat bagi kita dalam rangka memajukan taraf ekonomi serta mengaplikasikan syariah Islam secara kaffah.
Wallahu ‘alam bishawab.

Untuk mengkaji secara cermat bagaimana pandangan Islam mengenai status hukum Multilevel Marketing serta analisa menyeluruh atas mekanisme dan system itu. Kita dapat memfilternya berdasarkan pedoman-pedoman dasar di bawah ini.

# Sesungguhnya Islam mendorong umatnya untuk memperoleh kesuksesan hidup. Bahkan menganjurkan agar tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup, tetapi juga dapat meraih “kelebihan (fadlan)”.

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (fadlan/rizqi) hasil perniagaan dengan Tuhanmu”. (QS Al Baqarah 2:198).

# Islam mengakui bahwa kuantitas rizqi umatnya terkonsentrasi pada perdagangan dan bisnis. Untuk itu, Islam memberikan perhatian yang cukup besar pada masalah perdagangan. Al Quran bahkan dengan sengaja menyampaikan kehalalan hukum jual beli. Dengan dasar ini, dapat dipetik pesan “Umat Islam diperintahkan berdaganga/berbisnis agar memperoleh kemapanan ekonomi.”

“Sesungguhnya 90% rizqi umatku ada dalam perdagangan dan jual beli.” (HR. Ahmad).

“…Dan sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli..” (QS Al Baqarah 2:275).

# Kegiatan perdagangan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas komersial an sich, tetapi ia juga merupakan wujud dari ibadah dalam pengertian luas yang meliputi saling ta ‘arruf, silaturrahim dan interaksi ihsan. Untuk itu syariah sangat mendukung apabila unsur-unsur itu tampil menjadi strategi dalam melakukan kegiatan dagang tersebut.

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu”. (QS Adz Dzaariyaat 51:56).Dalam system multilevel marketing, unsur-unsur di atas sesungguhnya sangat melekat.

Dan apabila seseorang berhasil di bisnis ini, maka ia akan memiliki waktu luang yang lebih banyak (kegiatan kerja akan menurun, sementara penghasilan meningkat) yang dapat Anda pergunakan untuk keluarga, untuk kegiatan social ataupun ataupun untuk melakukan ibadah dan amal shaleh lainnya.

# Islam juga memahami bahwa perkembangan budaya bisnis akan berjalan begitu cepat dan dinamis. Untuk itu secara kondusif Islam memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan improvisasi dan inovasi mengenai system, teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan. Adagium ushul fiqh menyatakan:

“Hukum dari muamalah (termasuk dagang) dan segala kontrak serta hal-hal yang berkenaan dengannya adalah halal selama tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.”

# Strategi multilevel marketing (MLM) sebagai metode pemasaran secara berperingkat (levelisasi) dinilai oleh Islam meiliki unsur-unsur silaturrahmi, dakwah dan trabiyah. Metode ini pernah digunakan Rasulullah dalam melakukan dakwah Islamiyah pada awal-awal Islam. Dakwah Islam pada saat itu dilakukan melalui teori sel, secara ketuk tular dari sahabat satu ke sahabat yang lainnya, sehingga pada satu ketika Islam dapat diterima oleh masyarakat kebanyakan. Strategi levelisasi ini juga sempat disinggung oleh Al Quran dalam pengibaratan ganjaran pahala orang berinfaq. Al Quran menyatakan: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2:216).

# Perdagangan yang dilakukan dalam bentuk apapun termasuk strategi MLM harus memenuhi rukun jual beli serta akhlaq (etika) yang baik. Disamping itu komoditas yang dijual harus halal (bukan haram ataupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermanfaat. MLM tidak boleh memperjualbelikan produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan modus penawaran produk/promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kesusilaan.

Promosi itu sendiri merupakan suatu upaya untuk menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana sebaiknya seseorang mempromosikan barang dagangannya? Melalui Rasulullah kita mengetahui bahwa beliau itu seorang Rasul yang tidak saja memberikan petunjuk tatacara beribadah kepada Allah, tetapi beliau juga ahli di dalam sales promotion.

Padahal kita mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah sekolah apalagi kursus kewiraswastaan. Tetapi mengapa beliau bisa menasehati orang bagaimana mempromoikan barang dengan menarik? Bukankah hal ini membuktikan bahwa dia seorang rasul yang mendapat wahyu?

Dalam suatu kesempatan beliau mendapati seseorang sedang menawarkan barang dagangannya. Dilihatnya ada yang janggal pada diri orang tersebut. Bagaimana beliau menasehati orang tersebut, terungkap dalam sebuah hadits “Rasulullah lewat di depan seseorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang itu jangkung sedang baju yang ditawarkannya pendek. Kemudian Rasulullah bersabda: Duduklah! Sesungguhnya kamu menawarkan dengan duduk itu lebih mudah mendatangkan rizqi.”

Pada dasarnya kita harus mempromosikan barang dengan cara yang paling tepat, sehingga menarik minat calon pembeli. Faktor tempat meliputi desain interiror yang serasi, letak barang yang mudah dilihat dan teratur rapi, kebersihan dan sikap penjual, cara menyajikan barang harus disajikan dengan cara yang menarik, kurang menimbulkan selera calon pembeli untuk membeli barang-barang kita. Dengan kata lain, bagaimana kita dapat mengembangkan tata cara promosi yang lebih luas lagi.

Di antara tuntunan Rasulullah dalam hal promosi, diantaranya:

a. Larangan promosi dengan tipu daya (sumpah palsu)

“Abu hurairah ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: yang dinamakan berjualan dengan sumpah palsu adalah usaha untuk melariskan barang dagangannya, lagi berusaha dengan cara yang tercela.” (HR. Bukhari Muslim).

b. Larangan penawaran dan pengakuan fiktif.

Fenomena yang dapat kita tangkap misalnya seorang penjual memberikan keterangan kepada calon pembeli seolah-olah barang dagangannya sudah ditawar oleh banyak calon pembli tersebut. Padahal semuanya itu adalah fiktif belaka.

c. Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

d. Menghindari dua hal dalam melakukan promosi:

Pertama: tidak melanggar kode akhlaq karimah.

Kedua, tidak mebuat pembeli menjadi menyesal.

# Syariah Islam sangat mencerca, apabila aktivitas perdagangan yang dijalankan seseorang akan menyebabkan seseorang semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Baik dari sisi proses produksi, produk yang diperjualbelikan, distribusi, strategi pemasaran maupun pada saat menikmati hasil ataupun keuntungan dari suatu perdagangan.

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, dan dari membayar zakat….” (QS An Nuur 24:37).

Dilihat dari sisi ini, insentif, penghargaan, hadiah dan sejenisnya yang disediakan oleh perusahaan MLM bagi anggota (mitra) yang berhasil menjual produk pada jumlah atau tingkat tertentu hendaklah menghindari orientasi “hanya bersenang-senang, apalagi melupakan Tuhan”. Perusahaan MLM harus membuat kebijakan sedemikian rupa agar penghargaan itu memberi manfaat lebih yang positif bagi penerimanya.

# Demikian pula halnya apabila perdagangan memerlukan ikatan kerjasama dengan pihak lain. Islam mempersilahkan para pihak untuk mengikat kerjasamanya itu berdasarkan asas kebebasan berkontrak tetapi memenuhi prinsip syariah:

“Setiap muslim (terikat) pada syarat-syarat yang mereka setujui, kecuali (persyaratan yang) menghalakan sesuatu yang haram dan mengharamkan yang halal”. (Risalatul Qadla Umar Ibn Khattab).

Prinsip ini misalnya dapat diterapkan pada penetapan besarnya insentif yang diterima oleh anggta (mitra) dengan kriteria-kriteria tertentu. Namun dalam melakukan penetapan ini harus memenuhi norma-norma:

1. adil

2. terbuka

3. insentif yang diterima seseorang (up line) tidak berasal dari pengurangan hak down line-nya (tidak aniaya).

# Kewajaran dalam memperoleh keuntungan juga merupakan suatu masalah yang diperhatikan oleh Islam. Sekalipun tidak dilakukan secara fixed besaran nominal keuntungan yang wajar dalam perdagangan, namun dengan tegas Al Quran berpesan agar pengambilan keuntungan dilakukan secara fair, saling rela dan menguntungkan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling rela di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS An Nisa 4:29).

Dalam kaitan ini sebagian masyarakat melihat adanya kecenderungan system yang dipakai MLM tertentu atas produk yang ditawarkan dinilai “mahal” atau eksklusif” sehingga kerapkali memberatkan anggota yang berada di level bawah (down line) serta masyarakat pemakai, dan menguntungkan level di atasnya (up line). Hal ini sepatutnya dihindari karena dengan cara ini, unsur “mengambil keuntungan secara bathil” telah terpenuhi.

# Penghargaan yang diberikan kepada mereka (up line) yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya (down line), yang dengan cara bersungguh-sungguh memberikan pembinaan (tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) adalah selaras dengan jiwa agama. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa di dalam Islam berbuat sesuatu kebajikan, maka kepadanya diberi pahala serta pahala dari orang yang mengikutiya tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang berbuat keburukan maka kepadanya diberi dosa serta dosa dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun “. (Hadits).

Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya disebabkan keberhasilnnya dalam memenuhi target penjualan tentu dan melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas levelnya.

“(Besarnya) ujrah (upah) itu tergantung pada kadar kesulitan (kesungguhan)”. (kaidah ushul fiqh).

Hal yang juga patut diwaspadai dalam hal memberikan applause ataupun gathering party atas prestasi seseorang adalah ekspresi yang tidak melampaui batas. Applause yang diberikan hendaklah tidak mengesankan kultus individu, mendewakan dan sikap berlebihan sejenisnya. Karena hal ini dapat mengarahkan penerimanya menjadi takabbur, ‘ujub dan kufur pada Allah SWT. Perayaan kebahagiaan/pesta atas keberhasilan seseorang juga sepatutnya tetap dilakukan dalam koridor “tasyakur”.

# Di samping itu sepatutnya perusahaan MLM (khususnya yang dikelola oleh kaum muslimin) memiliki misi mulia dibalik kegiatan perdagangannya itu. Di antara misi mulia itu adalah:

1. meningkatkan jalinan ukhuwah Islam.

2. membentuk jaingan ekonomi umat, baik jaringan produksi, distribusi maupun konsumennya, sehingga dapat mendorong kemandirian dan kejayaan ekonomi umat.

3. memperkokoh ketahanan aqidah dari serbuan ideologi, budaya dan produk yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islami.

4. mengantisipasi dan mempersiapkan strategi dan daya menghadapi era globalisasi dan teknologi informasi.

Demikianlah point-point yang penting yang harus kita kritisi mengenai mekanisme, kebijakan dan system MLM yang berlaku di tengah masyarakat. Kita sangat merasakan manfaat kehadiran bisnis melalui jaringan startegi MLM yang dapat memberikan peluang rizqi. Terlebih dalam suasana negara tengah mengalami krisis ekonomi yang sangat serius. Sehingga melahirkan berjuta pengangguran. Namun demikian tidak berarti secara 100% kita jiplak dan ikuti kultur umum system ini. Kita memerlukan MLM. Dan kita perlu membangun MLM berwatak Islami.

Secara ringkas kiranya dapat disampaikan skema komparasi system MLM yang sesuai dengan nilai dan aturan syariah Islam dengan system MLM konvensional yang kita kenal sekarang ini.

Demikianlah paparan ini disampaikan, semoga kiranya memberikan manfaat bagi kita dalam rangka memajukan taraf ekonomi serta mengaplikasikan syariah Islam secara kaffah.

Wallahu ‘alam bishawab.

6 Tanggapan to “Analisa Teoritis Normatif Multilevel Marketing dalam Perspektif Muamalah (Tulisan Terakhir)”

  1. Fadly Says:

    Asalamualaikum wr wb
    saya hanya ingin berkomentar kepada anda, anda jangan mencari pembenaran di dalam ayat suci alquran demi menghalalkan sesuatu yang haram. anda menukil surat al baqoroh ayat 216 diatas untuk menyamakan persepsi alquran dengan MLM, yg perlu anda ketahui di dalam ayat tersebut hanya di peruntukkan bagi orang2 yg MENAFKAHKAN HARTANYA DIJALAN ALLAH, bukan BER MLM yg notabene mengeruk hasil Jerih payah bawahan (yg kita ajak) tanpa bekerja. Islam tidak pernah mengajarkan Umatnya memeras Manusia sebagaimana yg digunakan dlm sistem MLM. seluruh manusia wajib bekerja dengan menyumbangkan tenaga dan pikirannya dan modalnya untuk membangun kehidupan didunia dan yang perlu di ingat! Tenaga dan Pikiran serta Modal yang di sumbangkan harus SEIMBANG/ WAJAR dengan Hasil yang di dapatkan, bukan karena Hanya dengan berjasa merekrut orang untuk memasarkan suatu produk , kemudian yang di atas bersantai-santai dan mengeruk hasil jerih payah bawahannya.
    dan anda seenaknya menyamakan cara berjuang rasulullah SAW dalam berdakwah dengan ber MLM (sungguh ironis Akhlaq anda). saya ingatkan kepada anda sebagai sesama saudara seiman (jika memang anda orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulnya) : Janganlah berusaha mencari pembenaran terhadap suatu yang nyata-nyata Bathil dalam Islam demi Kenikmatan Duniawai yang Fana ini. masih banyak cara yang lebih di ridhoi oleh Allah SWT dalam mencari rizqiNYA yg telah di tetapkan kepada Hambanya.
    dalam sistem MLM kalau anda mau merenungkan dari sisi Ketidak adilannya disamping yang saya sebutkan diatas sebelumnya adalah bagi orang yang LEvel terakhir. mereka tidak mendapatkan reward apa-apa.

    Wasalamualaikum wr wb

    admin : Kita semua berhak berpendapat apa saja, monggo..kami hanya menyalin dari tulisan DPS Ahad-Net, Ustadz Hidayat. Umat lain udah ngapa-ngapain, kita masih kayak gini. So, peace yo!🙂.

  2. Ahmad Ifham Says:

    Dari lubuk hati terdalam, logika saya masih belum nyambung, kenapa MLM bisa jadi halal? Mungkin karena saya belum paham aja. Setelah saya baca sana sini dan pengalaman saya diajak ikutan MLM, saya pun makin kagak paham, mengapa MLM bisa jadi halal.

    Sekedar meneliti pernyataan ADMIN: “Kita semua berhak berpendapat apa saja, monggo..kami hanya menyalin dari tulisan DPS Ahad-Net, Ustadz Hidayat. Umat lain udah ngapa-ngapain, kita masih kayak gini.” Menurut saya, pernyataan jujur ini ironis sekali ternyata MLM yang dijalankan atas nama syariah ini tanpa landasan sama sekali. Ada kesan bahwa DPS gak tau praktek MLM, orang MLM-nya gak tahu konsep syariah yang seharusnya dijalankan.

    Insya Allah klo pengen ngapa2in seperti umat lain, kita bisa lihat umat lain yang sukses malah bukan dari bisnis MLM. Saya pernah kerja di sebuah perusahaan yang merupakan bagian kecil dari Kerajaan Bisnis non muslim, jadi cukup tahu kerja keras mereka untuk bisa sukses dan bantu umat mereka. Saya pernah kerja di group-nya LIPPO, yang besar dengan berbagai bidang bisnis meliputi property seperti Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, Lippo Village di Singapore, St. Moritz, dan Village2 laen punya Lippo, bisnis IT, Hypermart, UPH, SPH, Matahari Dept Store, Jakarta Globe, Group-nya Investor, AXIS, Times, Lippobank (dulu, sekarang lagi bikin bank baru lagi), penyewaan Helikopter, dll masih banyak lagi sampe2 bisa nyumbang kampanye calon Presiden AS. Kuncinya adalah Kerja Keras, Jeli baca peluang, Adil. Emmm bukan lewat MLM. So, gak usah menjadikan alasan untuk bisa seperti umat lain, trus menghalalkan MLM.

    Tapi, saya teteap berharap semoga umat Islam punya sebuah MLM yang bener2 sesuai syariah.

    Regards,
    Ahmad Ifham

    • admin Says:

      @ Ahmad Ifham : tulisan ini memang saya menyadur dari tulisan DPS Ahad-Net, Ustadz Drs. H. Mohamad Hidayat, MBA, MH (Juga DPS dari Perusahaan Asuransi BRIngin Life Syariah). Untuk berbisnis dan menjadi sukses memang banyak sekali pilihan. Dan kita juga tidak bisa menyangkal bahwa MLM sebagai salah satu ikhtiar untuk sukses. MLM memang masih banyak diperdebatkan, apalagi trus ada MLM Syariah. Buat saya pribadi Sistem MLM yang benar terutama MLM Syariah adalah sistem yg mengembangkan etos siapa yang kerja keras dia akan mendapatkan hasilnya. Meski berada di peringkat tinggi, masih bekerja dan bertanggung jawab terhadap rekan-rekan bisnisnya yg berada pada jaringannya. Orang-orang ug menjadi leader pun penuh perjuangan, memulai pula dari bawah, menginvestasikan waktu dan uangnya, ditolak ribuan kali. Kita hanya melihat setelah berperingkat tinggi. Pengalaman saya di Ahad-Net, salah satu poin untuk naik peringkat adalah harus membuat pertemuan rutin, dengan penanggung jawab leader bersangkutan. Selain itu dia harus mempunyai jalur bisnis baru yg memang harus dibina terus menerus. Pola royalti pun dikarenakan atas jasanya mengembangkan jaringan dan loyalitas pada perusahaan. Juga tergantung omzet pada jaringan yg dibina. Jadi jika memang tidak ada omzet ya tidak ada bonus. Jadi tidak sembarangan perusahaan memberikan apresiasi dan penghargaan. Sebuah perusahaan yg menerima Sertifikat Lembaga Bisnis Syariah tidaklah mudah, banyak filter yg harus dilalui. Namun, karena bisnis MLM adalah bisnis orang per orang. Tentunya tidak lepas dari pribadi orang yg melakukan bisnis ini. Kembali lagi, keputusan ada di tangan Anda. Kami hanya mengabarkan dan menyampaikan.

  3. tira1984 Says:

    ribut ya masalah MLM..
    MLM bagi saya adalah tetap haram sesuai fatwa para ulama. Salah satu hak ulama adalah untuk kita ikuti.
    sebelumnya saya juga pernah mengikuti sebuah MLM bernama cni. saya juga melihat jatuh bangunnya mereka membangun jaringan yang ujung2nya keruntuhannya lebih nyata dibandingkan kesuksesannya.
    Kenapa? karena sistem MLM ini mmg diciptakan agar tidak ada orang yg bertahan di level tengah. Sedangkan orang yang berada di level atas adalah orang2 lingkaran dalam pemilik MLM. Tidak percaya? terserah..

    • admin Says:

      bisa setuju, bisa tidak. semua tergantung keyakinan. keyakinan bisa merubah takdir. bukan begitu bos tira?? akur aja kan enak…🙂

  4. Zilah Says:

    kembali lagi harus berhati2 memilih MLM..

    Pada kenyataannya ada tiga macam bentuk yang berkaitan dengan bisnis MLM :
    a. MLM yang tidak menjual produk, biasa disebut money game (permainan uang). Contoh: Pihak MLM menawarkan sebuah sepeda motor merk x hanya dengan menyetor uang Rp. 2.000.000 dengan syarat harus bisa menjaring sebanyak sepuluh orang yang masing-masing harus menyetorkan uang sebesar Rp. 2.000.000 pula. la akan menerima sepeda motor tersebut setelah mampu menjaring sepuluh orang, dan bila tidak, maka uang tersebut hangus. Demikian seterusnya.
    b. Perusahaan MLM, ialah suatu perusahaan yang menjual produk orang lain dengan sistern MLM, yakni ia membeli suatu produk dari pabrik kemudian memasarkannya dengan sistem MLM. Perusahaan MLM ini kadang-kadang mengakibatkan harga menjadi tidak wajar (diatas harga pasar) dan kadang-kadang kabur entah kemana, sehingga banyak yang tidak pernah menerima bonus yang dijanjikan dan jaringan yang paling bawah tidak bisa mengembangkan lagi jaringan.

    c. Perusahaan yang memasarkan produknya dengan sistem Penjualan Berjenjang (Network Marketing).
    Adalah sebuah perusahaan yang menjual produknya dengan sistem berjenjang, sehingga setiap konsumen di perusahaan tersebut adalah juga seorang distributor. Dimana akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan jumlah jaringan dan omzet yang dicapai sesuai dengan sistem marketing yang disetujui sejak awal. Dengan harga produk yang cukup wajar.
    2. Prinsip Mu’amalat Islami :
    Hukum Islam adalah hukum yang berorientasi kemaslahatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat (mashalih al-‘ammah). Orientasi ini menjadi pertimbangan mendasar bagi setiap mu’amalat yang terjadi, baik bagi yang sudah ada, maupun bagi yang baru muncul yang banyak direspon oleh masyarakat seperti Network Marketing / MLM.
    Mu’amalat Islami adalah HALAL selama dibangun di atas prinsip-prinsip berikut:
    1. Tabadul al-manafi’ (tukar-menukar barang yang bernilai manfa’at);
    2. ‘An taradlin (kerelaan dari kedua pihak yang bertransaksi dengan tidak ada paksaan);
    3. ‘Adamu al-gharar (tidak berspekulasi yang tidak jelas / tidak transparan),
    4. ‘Adamu Maysyir (tidak ada untung-untungan atau judi seperti ba ‘i al-hashat yi: melempar barang dengan batu kerikil dan yang terkena lemparan itu harus dibeli, atau seperti membeli tanah seluas lemparan kerikil dengan harga yang telah disepakati, dan ba ‘i al-lams yi: barang yang sudah disentuh harus dibeli),
    5. ‘Adamu Riba (tidak ada sistem bunga-berbunga),
    6. ‘Adamu al-gasysy (tidak ada tipu muslihat), seperti al-tathfif (curang dalam menimbang atau menakar),
    7. ‘Adamu al-najasy (tidak melakukan najasy yaitu menawar barang hanya sekedar untuk mempengaruhi calon pembeli lain sehingga harganya menjadi tinggi),
    8. Ta ‘awun ‘ala al-birr wa al-taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa),
    9. Musyarakah (kerja sama).
    3. Prinsip (rukun) jual beli
    a. Ba ‘i (penjual);
    b. Musytari (pembeli);
    Syarat bagi penjual dan pembeli adalah harus shah (layak) melakukan transaksi.
    c. Mabi’ (barang yang diperjual-belikan).
    Adapun syarat barang yang diperjual-belikan harus ada manfa’atnya, benda suci (bukan benda najis) dan halal dikonsumsi dan atau dipakai/digunakan.
    4. Islam membolehkan membuat persyaratan / perjanjian dalam transaksi apapun yang disepakati oleh semua pihak, seperti dalam bisnis MLM di atas, selama tidak untuk menghalalkan yang haram atau sebaliknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: