Analisa Teoritis Normatif Multilevel Marketing dalam Perspektif Muamalah (2 dari 3)

Oleh : Drs. Mohamad Hidayat, MBA, MH (Dewan Pengawas Syariah Ahad-Net)

Kelanjutan dari posting sebelumnya:

D. KIPRAH DAN KETELADANAN DAGANG NABI MUHAMMAD SAW

Bagaimana perhatian Islam yang begitu tinggi dalam dunia perdagangan dapat kita simak dari kiprah perdagangan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana kita maklumi Nabi Muhammad SAW adalah sosok probadi yang lengkap dan tak habis-habisnya digali dan didiskusikan oleh ulama-ulama Islam maupun kalangan di luar Islam. Walaupun demikian kepeloporan dan ketokohannya di dunia wirausaha, kreativitasnya di dunia perdangan dan suksesnya mencapai puncak kejayaan bisnis dalam usia 40-tahunan luput dari kajian. Salah satu yang menarik dari ciri-ciri wirausaha Muhammad SAW adalah mengenai personality dan pelaku wirausahanya. Personality atau kepribadian wirausaha berupa sikap merdeka, bebas dan percaya pada diri sendiri (self reliance) adalah sikap yang didapatkannya sejak masa kecil.
Kondisi masa kanak-kanak Muhammad SAW tersebut di kemudian hari mendapat justifikasi oleh penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores serta Zazelnik’s. Mereka berkesimpulan bahwa “The act entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early experiences”.
Muhammad SAW baru berusia 12 tahun ketika pergi berdagang ke Syiria berdagang bersama pamannya. Oleh karena Muhammad SAW besar dengan pamannya, maka beliau tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri. Ketika pamannya bangkrut menjelang usia Muhammad SAW dewasa maka ia sudah dapat berdiri sendiri dengan melakukan perdagangan di kota Mekkah. Ia melakukan perdagangan keliling dengan rajin, inovatif dan penuh dedikatif pada usahanya. Hubungan yang luas (silaturrahim), kecerdasan, kejujuran (sidiq) dan kesetiaannya memegang janji (amin) adalah dasar-dasar etika wirausahawan yang sangat modern. Komoditas yang diperdagangkan tidak hanya memenuhi unsur mutu tetapi dapat dipastikan kehalalannya. Transaksi yang dilakukan penuh dengan etika serta sangat memuaskan. Dari sifat-sifat demikianlah maka berbagai pinjaman komersial (commercial loan) tersedia di kota Mekkah membuka peluang kemitraan antara Muhammad SAW dengan para investor. Salah seorang pemilik modal tersebut adalah seorang janda kaya bernama Siti Khadijah.
Ia menawarkan suatu kemitraan berdasarkan pada system bagi hasil (profit sharing). Dua puluh tahun lamanya Muhammad SAW berkiprah di bidang usaha sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arabia.
Reputasi Muhammad SAW dalam dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh muhaddist Abdul Razaq. Khadijah mengangkat Muhammad sebagai manajer perdagangannya ke pusat perdagangan Habashah di Yaman. Muhammad juga 4 (empat) kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria dan Jorash. Ia juga melakukan perjalanan bisnis ke Bahrain di sebelah Timur semenanjung Arabia. Tentang perjalanan bisnis ke Bahrain ini dapat dijumpai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Musnad Ahmad. Di antara ratusan pembantu beliau yang datang menghadap beliau setelah Mekkah ditaklukan. Salah seorang pembantunya bernama Abdul Qois menemui Nabi dan menceritakan bahwa ada utusan Kabilah dari Bahrain. Rasulullah menanyakan siapa pemimpinnya, dan dijawab pemimpinnya adalah Al Ashajj. Setelah bertemu Nabi, maka Rasulullah menanyakan Al Ashajj berbagai masalah dan orang-orang yang terkemuka dan terpandang serta kota-kota perdagangan di Bahrain, seperti kota Shafa, Mushaqqar dan Hijaz. Pemimpin kabilah tersebut (Al Ashajj) sangat terkejut dan tercengang atas luasnya pengetahuan Nabi dan dalamnya pemahaman beliau tentang geographi negrinya. Al Ashajj langsung menjawab, “My Mother and my father sacrified for you, you know about my country than my self and know the names of more towns of our country then we know.”

Rasulullah menjawab, “Saya telah mendapat kesempatan untuk menjelajahi negeri Anda dan saya telah diperlakukan dengan baik (I have traveled your land under my feet).” Dari berbagai laporan yang ditemukan maka Nabi Muhammad SAW memulai perdagangan dalam usianya masih muda. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mulai berwirausaha pada usia 17 tahun disaat pamannya menganjurkan untuk berdagang sebagai cara untuk melepaskan beban keluarga. Adalah normal bagi seorang pemuda jujur dan penuh dengan idealisme untuk melakukan kerja keras dan menjalankan perdagangan secara adil atas dasar suka sama suka. Dengan cara itu Muhammad SAW meyakini berdagang secara halal, jujur, setia dan professional, maka orang akan mempercayainya. Inilah dasar kepribadian dan etika wiraswasta yang diletakkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya dan umat manusia di seantero jagad. Dasar-dasar kewirausahaan yang demikian itulah menyebabkan pengaruh Islam berkembang pesat sampai ke pelosok dunia. Dan dalam dimensi Islam yang demikian itulah para mubaligh tempo dulu mengembara ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Jadi kita kaum muslimin Indonesia ingin melakukan bisnis yang maju, maka etika, moral dan kewiraswastaan yang telah dibuktikan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

E. MULTILEVEL MARKETING SEBAGAI STRATEGI PEMASARAN PERDAGANGAN

Dunia bisnis semakin maju dan banyak jenis produk yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan berlomba untuk merebut pasar atas produknya. Pemasaran merupakan bagian penting dalam manajemen perusahaan tanpa strategi pemasaran yang tepat dan baik produk akan sulit dikenal dan dijual. Media pemasaran suatu produk pun banyak jenis dan metodenya. Iklan di media massa, billboard, spanduk dan papan nama merupakan bagian promosi sebagai startegi pemasaran. Kadangkala satu jenis produk dipromosikan di berbagai media atau pun sebaliknya suatu produk tidak dipromosikan secara besar-besaran, namun dikenal banyak orang.

Multilevel marketing (MLM) sebagai metode pemasaran merupakan suatu fenomena yang relatif baru yang dilaksanakan oleh beberapa perusahaan yang menghasilkan produk tertentu. Sebagai sesuatu yang relatif baru perlu dicermati bagaimana hal ihwal metode pemasaran yang bernama MLM ini dan bagaimana Islam memandang fenomena ini dikaitkan dengan system ekonomi syariah Islam.

Produk apapun yang dijual sebagai hasil suatu perusahaan haruslah terjamin mutunya. Salah satu konsep ekonomi dalam Islam untuk menjual suatu produk harus diuji kehalalannya, manfaatnya dan yang terutama memperhatikan prinsip dasar ekonomi syariah Islam secara makro meliputi, bahwa hal itu tidak ghurur (ragu-ragu), tidak ikhtikar (penipuan) dan tidak ribawi (bunga). Secara umum kesemuanya ini sudah dinubuatkan oleh Rasulullah. Rasulullah menggambarkan kalau pedagang sudah berbuat dosa, penguasanya bagaikan serigala, maka orang berada di bawah tanah lebih baik daripadanya yang berada di atas tanah. Karena itu untuk dapat hidup tentram dan penuh barokah kita harus menjaga akhlaq karimah termasuk dalam hal mencari rizqi. Berdasarkan pedoman ini kita dapat mengukur diri, apakah kita termasuk masyarakat yang yamhaqu (kehilangan berkah hidup) atau masyarakat yang bisa hidup dengan berkah? Semoga kita selalu diberi bimbingan dan kekuatan untuk mengamalkan pedoman ini. Untuk mencari formulai yang diterima oleh masyarakat agar tidak menimbulkan keragu-raguan dan ditinjau dari syariah Islam diperoleh kejelasan mengenai MLM maka kita harus memprhatikan prinsip-prinsip perdagangan menurut syariah di bawah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: