Jamu Sehat, Tak Sesehat Halalnya

Jamu merupakan produk yang sangat mudah ditemui, mulai di kota besar, kota kecil, pinggir jalan hingga di area pemukiman. Jamu adalah apapun yang diolah dari alam dan berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Jamu terbuat dari bahan-bahan alami seperti akar-akaran, daun-daunan, kulit maupun batang tanaman. Selain itu jamu juga bisa terbuat dari hewan seperti jeroan hewan. Menurut pakar biokimia Dr. Hj. Anna. P. Roswiem, Ms., jamu adalah ”produk yang berasal dari bahan-bahan tradisional tumbuhan dan tidak termasuk golongan obat.” Sedangkan menurut keterangan BP POM jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pengolahan jamu antara lain adalah direbus atau digodok, dikeringkan atau dikonsumsi langsung.

Beberapa alasan kita mengkonsumsi jamu adalah untuk mengobati sakit, mencegah penyakit, untuk masa penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Beberapa konsumen mengaku memilih jamu karena terbuat dari bahan-bahan alami.

Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 500 macam jamu maupun makanan suplemen dengan berbagai merk, baik dari luar maupun dalam negeri. Di pasaran ada jamu yang legal dan ada juga yang ilegal. Jamu legal biasanya merupakan merek lokal atau pun merek luar yang telah mendapatkan izin dari BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), departemen perindustrian maupun departemen kesehatan. Sedangkan ilegal tidak memiliki izin edar dari lembaga yang berwenang. Ada juga jamu dari luar yang dipasarkan dengan cara Multi Level Marketing.

Perlu Waspada

Umumnya para penjual jamu, baik jamu gendong maupun jamu yang mangkal di pinggir jalan menjual merek dalam dan luar negeri. Jamu ini dapat berupa jamu seduh, tablet, kaplet, kapsul hingga yang telah berbentuk cair. Untuk jenis jamu ini bahan-bahan pembuat biasanya sudah tercantum di dalam kemasan. Hal inilah yang wajib kita waspadai, karena bukan tidak mungkin terdapat bahan-bahan yang berasal dari hewan. Jika bahan tersebut berasal dari hewan halal seperti jeroan ayam atau empedu kambing, maka yang wajib diwaspadai adalah cara penyembelihannya apakah disembelih dengan cara yang halal atau tidak. Temuan di lapangan terdapat beberapa jamu impor yang memiliki bahan-bahan yang belum jelas kehalalannya seperti darah ular maupun tangkur buaya sebagai salah satu bahannya.

Selain karena pertimbangan bahan tersebut, Dr. Anna juga mengatakan, “Produk jamu yang perlu diwaspadai adalah yang dicampur dengan obat. Produk ini dikhawatirkan menimbulkan efek samping yang mengganggu metabolisme tubuh. Efek ini dapat berupa sakit kepala yang berkepanjangan, alergi pada kulit hingga kerusakan hati apabila dikonsumsi secara terus menerus.” Dosen biokimia IPB ini mengingatkan agar kita waspada terhadap jamu yang diracik oleh sang penjualnya, karena terkadang kita tidak mengetahui secara jelas bahan dan campuran jamu yang kita minum. Bisa jadi ditambahkan anggur obat dalam ramuan tersebut. “Walaupun menggunakan komposisi yang sedikit, jamu yang telah dicampur dengan arak atau anggur tetaplah haram. Karena jamu telah terkontaminasi dengan bahan yang haram, yaitu Khamar.”

Bahan campuran yang sering dipergunakan saat menyeduh jamu adalah anggur atau arak. Beberapa penjual jamu yang ditemui Jurnal mengatakan bahwa fungsi anggur atau arak ini adalah untuk menghangatkan badan. Sebagian besar dari mereka hanya membeli langsung anggur atau arak tersebut tanpa merk. Anggur tersebut memiliki kadar alkohol lebih dari 2 persen dalam setiap kemasan. Merek yang biasanya digunakan sebagai campuran jamu ini adalah anggur cap Orang Tua. Anggur ini terbuat dari fermentasi beras ketan (tape), apel, peer maupun madu yang dicampur bahan tambahan lain sehingga dalam waktu beberapa hari akan menjadi minuman beralkohol.

Anggur obat merupakan minuman yang tergolong ke dalam khamar (minuman yang memabukkan) dan statusnya adalah haram, sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar: ”Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah diharamkan”.

Sebagai solusinya banyak para penjual jamu menggunakan bahan alternatif pengganti anggur atau arak, yaitu cairan mentol atau mint yang berasal dari tumbuhan. Apakah dengan demikian menyebabkan jamu ini menjadi halal? Dr. Anna mengatakan bahwa masalah ini sebaiknya diserahkan kepada ahlinya. Perlu kajian untuk melihat dari mana sumber mentol tersebut dan apakah ada bahan tambahan di dalamnya. LPPOM MUI sebagai lembaga yang berwenang dapat melihat bahan dan proses produksi dari jamu yang hendak dijual. Setelah proses audit itulah maka jamu tersebut berhak memperoleh sertifikat halal dan layak untuk dijual ke masyarakat atau tidak.

Sumber: Jurnal Halal LP POM MUI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: