Iman dan Harapan

 

Orang yang beriman kepada Allah adalah orang kuat. Atau begitulah seharusnya. Kuat batin dan jiwanya, sehingga dia tidak pernah gentar menghadapi hidup dengan berbagai cobaannya ini. Kekuatan orang yang beriman diperoleh karena harapan kepada Allah. Dia tidak mudah putus asa. Karena dia yakin bahwa Allah selalu menyertainya. Seperti difirmankan, “Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan” (QS Al-Hadiid/57:4), dan firman-Nya, ”Maka kemanapun kamu menghadap, maka disanalah wajah Allah” (QS Al-Baqarah/2:115). Karena itu, dengan penuh sikap menyadarkan diri (tawakal) kepada Allah, orang yang beriman yakin dia tidak maju menghadapi tantangan hidup ini sendirian. Cukuplah Allah baginya, karena Allah sebaik-baik al-Wakiil, “Tempat Bersandar.”


Jadi iman menghasilkan harapan. Maka tidak adanya harapan adalah indikasi tidak adanya iman. Orang yang tidak berpengharapan adalah orang yang tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Atau, dibalik, orang yang tidak menaruh kepercayaan kepercayaan kepada Allah akan tidak mempunyai harapan kepada-Nya. Maka kita diperingatkan dalam Kitab Suci, melalui lisan Nabi Ya’qub AS ketika dia berpesan kepada anak-anaknya dalam mencari Yusuf dan Bunyamin di Mesir: “Janganlah kamu berputus asa dari kasih Allah, sebab sesungguhnya tidaklah berputus asa dari kasih Allah kecuali kaum yang kafir”(QS Yusuf/12:87).

Oleh karena itu, salah satu keharusan iman adalah sikap berbaik sangka kepada Allah. Kita harus berusaha sedapat-dapatnya untuk mencari hikmah dari apa yang terjadi pada kita sebagai kehendak Ilahi yang tidak akan muspra atau hilang tanpa faedah. Ini memeng tidak mudah untuk kebanyakan orang. Apalagi jika kita sedang dirundung malang, kita sering kehilangan perspektif kasih Allah dan hikmah Kehendak-Nya. Maka kita pun mulai kehilangan sikap baik sangka kepada Allah,dan mungkin saja dalam hati kita masuk bisikan syetan untuk mulai berburuk sangka kepada Allah. Kebanyakan kita sedikit-banyak mengalami keadaan serupa itu, sering tanpa terasa karena halusnya bisikan syetan tersebut.

Karena itu Rasulullah SAW memberi petunjuk kepada kita dengan mengajarkan wirid tasbih, tahmid, dan takbir. Tasbih ialah ucapan Subhanallah, artinya ialan “Maha Suci Allah.” Ucapan ini dimaksudkan membebaskan diri kita dari prasangka buruk kepada Allah: Allah Maha Suci dan terbebas dari prasangka kita yang tidak baik ini! Jadi tasbih membebaskan diri kita dari pandangan negatif dan pesimis kepada Allah. Pandangan negatif dan pesimis ini adalah pangkal putus harapan kepada-Nya.

Lalu kita teruskan tahmid, yaitu ucapan Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah. Artinya, kita menanamkan dalam diri kita persepsi yang positif dan optimis kepada Allah, serta harapan kepada-Nya.

Lalu yang ketiga, yaitu takbir, ucapan Allahu Akbar. Inilah pernyataan tekad untuk mengarungi lautan hidup dan menghadapi gelombangnya dengan penuh keberanian, karena kita yakin Tuhan Maha Besar beserta kita. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Hanya Allah Yang Maha Besar, selain itu semuanya kecil! Dan kita hidup dengan penuh tekad dan harapan kepada Allah SWT. Inilah hidup beriman! Maka seorang yang beriman harus berani hidup, bahkan kalau pun harus sendirian!

Sumber: buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: