Berpikir Positif Tentang Tuhan

Salah satu bacaan yang diajarkan Nabi SAW kepada kita ialah tasbih, yaitu ucapan “Subhanallah” (Maha Suci Allah). Maksudnya ialah, antara lain, bahwa Allah Maha Suci atau Maha Bebas dari setiap pikiran kita yang negatif mengenai Dia. Misalnya, dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran/3:191, dilukiskan bahwa orang-orang yang berpengertian yang mendalam (ulu al-albaab) selalu ingat kepada Allah setiap saat (ketika berdiri, duduk, maupun berbaring) dan sekaligus memperhatikan serta merenungkan kejadian alam raya. Karena perhatian dan renungannya yang mendalam itu, orang tersebut sampai kepada seruan kesimpulan: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam raya ini secara sia-sia (baathil), Maha Suci Engkau! Maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka.”
Jadi dalam firman itu dilukiskan bahwa orang yang penuh pengertian mendalam (ulu al-albaab) itu me-Mahasucikan Allah dari kemungkinan menciptakan alam ini sia-sia. Dan mengatakan bahwa Allah menciptakan alam ini sia-sia, tanpa makna, adalah pikiran negatif tentang Tuhan, maka ucapan “Maha Suci Engkau” adalah juga berarti me-Mahasucikan Allah dari setiap gambaran atau pikiran negatif kita tentang Dia. Implikasinya ialah, bahwa justru kita sendiri, dengan ucapan Subhanallah itu, berusaha membebaskan diri kita dari setiap pikiran negatif tentang Tuhan.

Oleh karena itu, gandengan tasbih ialah tahmid, yaitu bacaan alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah). Bacaan ini mengandung makna penegasan kepada diri sendiri bahwa kita tidak saja jangan sampai berpikiran negatif tentang Tuhan, bahkan sebaliknya, kita harus hanya berpikir positif tentang Dia. Dengan memuji syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang terjadi atas kita, kita mendidik diri sendiri untuk selalu mempunyai pandangan yang penuh apresiasi dan rasa optimis kepada Allah dengan segala takdir-Nya atas kita.

Sikap diatas itu tidak boleh dikacaukan dengan apa yang sering disebut fatalisme. Sebab fatalisme adalah sikap putus asa terhadap masa depan. Siakp di atas itu adalah justru kebalikan fatalisme. Sebab dengan memahami dan meresapkan makna tasbih, kemudian disusul dan digandeng dengan tahmid itu kita justru menanamkan dalam jiwa kita sikap yang positif, optimis, dan penuh harapan kepada Allah bagi masa depan kita. Karena itu ucapan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan ruhani kita menghadapi hidup ini. Dengan pandangan optimis dan positif kepada Allah, kita memperoleh sumber energi dan kegairahan hidup ini, pada urutannya, akan membuat kita lebih mampu mengatasi masalah-masalah kita. Karena itu, iman kepada Allah membuat kita tabah, dan tidak mudah patah semangat dalam perjalanan hidup ini.

Maka tasbih dan tahmid itu langsung dikaitkan pula dengan takbir, yaitu ucapan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Dengan ucapan itu, sebagaimana sudah banyak dipahami orang, kita menanamkan tekad hendak menyatakan: semua halangan, betapapun besarnya, dapat kita atasi dengan hidayah dan inayah Allah Yang Maha Besar (sebab, yang lainnya kecil)! Inilah antara lain makna janji Allah (QS al-Thalaaq/65:2), “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan membuat baginya jalan keluar (dari setiap kesulitan), dan memberinya rizqi dari arah yang dia tidak duga-duga.”

 

Sumber: buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: