Geliat Bisnis Produk Halal di Jerman

Produksi makanan halal mencapai seperlima omset bahan makanan di seluruh dunia. Ini satu pasar besar, yang merupakan peluang bagi para produsen makanan, termasuk di Jerman. Menurut perkiraan para ahli, bisnis makanan halal di Jerman bisa menghasilkan omset sekitar 5 milliar Euro. Hal itu tidaklah mengejutkan, karena di Jerman terdapat lebih dari 4 juta umat Muslim.

Akan tetapi, Anya Schlie, dari Forum bahan pangan Jerman-Turki, bertutur bahwa perusahaan Jerman berada di belakang pesaing internasional. “Perusahaan Jerman sangat terlambat menanggapi tema makanan halal ini secara seksama. Kita tahu mereka mulai menawarkan produk halal, karena lagi dibicarakan secara intensif. Jerman berada di belakang Prancis, Belanda atau Inggris.“

Potensi keuntungan ekonomi dari bahan pangan yang dideklarasikan halal sampai saat ini hanya dikenali perusahaan internasional besar, yang telah lama mengekspor produknya ke negara-negara Islam. Pelopor perdagangan halal ini adalah Nestle. Lima persen omset perusahaan Swiss ini berasal dari produk makanan halal. Omset tersebut berasal dari sleuruh cabang perusahaan itu di dunia, termasuk dari Jerman.

Kalaupun perusahaan-perusahaan di negara Eropa lainnya secara intensif mencoba menarik pelanggan yang beragama Islam, industri bahan pangan dan pedagang eceran Jerman tampak lamban. Banyak perusahaan khawatir kalau produk halal dapat merugikan citra perusahaan, dikatakan Anya Schlie.

Sekitar 4 ribu produk halal bisa ditemukan di rak-rak toko-toko Jerman. Seringkali produk tersebut tidak ditandai dengan label halal. Hal itu membuat umat Islam jadi repot. Kepala bagian sertifikasi barang halal dari perusahaan M-Haditec di Bremen,  Yavuz Özoguz, menghimbau agar keadaan di Jerman diubah, “Bila dibandingkan dengan Perancis, orang bisa pergi ke supermarket dan menemukan rak panjang yang berisi segala macam makanan dengan label halal yang besar. Secara teoritis hal itu bisa dilakukan di Jerman.”

Saat ini di Jerman mulai banyak toko-toko Turki dan Arab yang menjual barang-barang yang diimpor dari negara-negara Muslim. Apakah penduduk Muslim di Jerman mau membeli produk halal dari Jerman?

Anya Schlie mengira itu akan perlu waktu, “Karena ini menyangkut kepercayaan. Pelanggan Muslim yang hanya mengkonsumsi makanan halal kemungkinan besar akan mengatakan bahwa toko-toko di Jerman belum dapat menawarkan barang tersebut. Meskipun ia menemukan makanan dengan label halal, ia akan tetap ragu, apakah itu benar-benar halal.“ —Republika.co.id, Berlin

Mengapa Saudi Arabia Tidak Pakai Dinar Dirham

Sufyan al Jawi – Numismatik Indonesia
Banyak yang suka bertanya: mengapa Pemerintah Saudi Arabia memakai uang riyal kertas, dan bukan Dinar dan Dirham? Ini sebagian jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa Saudi Arabia memakai uang kertas riyal, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak, kita perlu mengetahui posisi kerajaan ini. Pada mulanya wilayah Hijaz adalah bagian dari Daulah Utsmaniah yang, tentu saja, menggunakan Dinar emas dan Dirham perak sebagai mata uangnya. Pada pertengahan abad ke-18, sebuah amirat lokal, dipimpin oleh amirnya, Muhammad ibn Sa’ud (meninggal 1765), menguasai suatu desa yang kering dan miskin, Dariyah. Karena kegiatannya yang selalu membuat onar, dan mengganggu jamaah haji, kelompok Al Sa’ud terus-menerus dalam konflik dengan pemerintahan Utsmani.

Beberapa tahun kemudian, berkat bantuan seorang broker politik, Rashid Ridha namanya murid dari Muhammad Abduh, untuk memperkuat rong-rongan terhadap Istambul, anak cucu Ibn Sa’ud membangun aliansi dengan Pemerintah Kolonial Inggris. Aliansi ini terjadi pada masa Sa’ud bin Abdal Aziz, anak Abdal Aziz Ibn Sa’ud, cucu Muhammad ibn Sa’ud. Untuk perannya ini Ridha ‘menerima imbalan 1,000 pound Mesir untuk mengirimkan sejumlah utusan ke provinsi Arab di [wilayah] Utsmani untuk memicu pemberontakan,’ pada 1914.

Ketika itu Ridha juga telah mendirikan sebuah organisasi lain, Liga Arab (Al-jami’a al-arabiyya), dengan tujuan menciptakan ‘persatuan antara Semenanjung Arabia dan provinsi-provinsi Arab di Kekaisaran Utsmani’. Agenda organisasi ini adalah pendirian ‘Kekhalifahan (Konstitusional) Arab’, suatu rencana yang tidak pernah terwujudkan. Yang lahir kemudian adalah Kerajaan Saudi Arabia.

Berkat kolaborasi antara Sa’ud bin Abdal ‘Azziz – dengan legitimasi teologis dari Wahabbisme, atau ajaran Syekh Muhammad ibn Wahhab – dan pelindungnya Winston Churchil, PM Inggris ketika itu berdirilah kemudian sebuah kerajaan nasional di tanah Hijaz, pada 8 Januari 1926. Pada 1932 Tanah Hijaz, yang semula merupakan bagian dari Daulah Utsmani, oleh rezim yang baru ini secara resmi dinamai: Sa’udi Arabia! Inilah satu-satunya negara di dunia ini yang mendapat nama dari nama seseorang. Salah satu mata rantai awal pemberontakan ini sendiri, adalah Amir di Najd waktu itu, Abdullah Ibn Sa’ud, berhasil ditangkap dan akhirnya dipancung di depan istana Topkapi, di Istanbul, setelah diadili dan dinyatakan sebagai seorang zindiq, pada 1818.

Meninggalkan Muamalat

Sejak awal, Pemerintahan Saudi Arabia, merupakan sekutu kekuatan Kristen-Barat (semula Inggris, kemudian Amerika Serikat), dan menjadi semakin erat dengan ditemukannya minyak pada tahun 1950-an. Beroperasinya perusahaan minyak raksasa (Aramco = Arabian-American Oil Company) yang markas besarnya di Dahran, di tempat yang sama dengan Pangkalan Militer AS (berdiri 1946), di Hijaz, merupakan simbol dan sekaligus sumber kekuasaan Rezim Sa’ud sampai detik ini. Semakin hari kita ketahui Rezim Saud makin meninggalkan muamalat, dan mengislamisasi kapitalisme barat.

Raja Abdul Aziz bin Sa’ud, pendiri Saudi Arabia, berkuasa penuh mulai tahun 1926 sampai 1953. Pada mulanya, setelah memasuki Mekkah (8 Jumadil Ula 1343 H), beliau menolak berlakunya sistem uang kertas di wilayahnya, setelah memusnahkan uang kertas lira Turki sekuler yang beredar di Haramain. Pada masa dia memerintah jamaah haji dari penjuru dunia menggunakan belbagai jenis koin emas perak dari negerinya masing-masing. Namun koin dinar Hashimi dan real perak Austria – Maria Theresa, juga riyal perak Hijaz yang paling populer di sana.

Real Perak Austria Maria Theresa

Real Perak Hijaz

Dinar Hashimi

Maka, pada tahun 1950-an, sempat populer di Amerika Serikat, anekdot kisah Raja Abdul Aziz yang selalu membawa harta kerajaan yang berupa koin emas-perak kemanapun dia pergi bagaikan orang kolot dan primitif. Namun setelah dia wafat, penggantinya, Raja Sa’ud bin Abdul Aziz (1953-1964), bersikap lain. Sejak ia berkuasa, Pemerintah Kingdom of Saudi Arabian (KSA) mendirikan bank sentral yang bernama: Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) dan menerbitkan uang kertas riyal pada tahun 1961 melalui Dekrit Kerajaan 1.7. 1379 H, dalam pecahan 1 – 100 riyal.

Raja tergiur menerbitkan uang kertas karena lebih menguntungkan daripada mencetak koin-koin riyal perak. Ide uang kertas diambil dari keberhasilan SAMA atas penerbitan uang kertas receipt yang berlaku dalam uji coba pada musim haji sepanjang tahun 1953-1957. Dengan menerbitkan Haj Pilgrim Receipt dalam satuan riyal perak, SAMA mulai menarik semua jenis koin emas dan perak yang beredar di Haramain. Para jamaah haji dari luar negeri pun diwajibkan menukarkan koin emas perak yang mereka bawa. Setelah populer, kupon haji itu pun kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi sejak Oktober 1963 dan finalnya tanggal 20 Maret 1964, diganti dengan uang kertas riyal.

Celakanya sejak saat itu, ONH atau BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) wajib dibayar dalam uang kertas dolar AS, bukan dengan uang kertas riyal! Sebab Kerajaan Saudi Arabia telah menyepakati pula berlakunya perjanjian Bretton Wood (1944), yang menyatakan bahwa dolar AS adalah satu-satunya mata uang yang berlaku untuk transaksi internasional. Segala transaksi dengan koin dinar Hashimi dan riyal perak (1 riyal = 4 dirham), termasuk koin real Maria Theresa di batalkan oleh negara. Maka umat Islam sedunia berduka atas dibrangusnya mata uang syar’i: dinar dirham.

Genaplah sudah makna hadis dengan lafal berikut: “Tak seorang pun manusia yang tidak memakan riba” yang diriwayatkan oleh Abu Daud, semoga Allah merahmatinya. Dinar dan Dirham diberangus sampai dua kali, pertama 1914 oleh Sultan-sultan boneka sisa Daulah Utsmani (Turki), dan kedua 1964 oleh KSA tersebut di atas. Tapi para ulama belum dapat mengambil kesimpulan dari terbitnya uang kertas riyal ini, tentang status halal-haramnya uang kertas. Sampai, akhirnya, diterbitkan fatwa tentang uang kertas, pada tahun 1984, yang menyatakan bahwa uang kertas adalah halal.

Begitulah, sejauh sejarah Islam dapat kita ketahui, fatwa Saudi Arabia yang menghalalkan uang kertas, satu-satunya fatwa resmi dari suatu pemerintahan (“Islam”) di dunia ini. Tetapi, kisah ringkas sejarah ekonomi politik Saudi Arabia sebagaimana diuraikan di atas, kiranya cukup menjelaskan mengapa Saudi Arabia menggunakan riyal kertas, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak.

Sumber: Wakalanusantara.Com

MARI BERGABUNG DENGAN KIOSK DINARFIRST UTAMA JOGJAKARTA

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah dengan ijin Allah kini telah hadir Kiosk Dinarfirst Utama Jogjakarta, bagi masyarakat muslim dan umum di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah yang ingin mendapatkan dinar-dirham ataupun bergabung menjadi kiosk dinarfirst serta mendaftarkan diri untuk layanan Dinarfirst-mobile exchange system dan Titipan Dinarfirst silahkan hubungi di:

KIOSK DINARFIRST UTAMA JOGJAKARTA
al Wakil: Saleh Eko Marwiyanto
Jl. Pogung Kidul RT 02 No.13
Jogjakarta 55284 – Indonesia
0274.557313
+62818263621
pakdhesaleh@gmail.com

Pengetahuan Umum Sekitar Emas

sumber: islamhariini dan IMN

Emas telah dikenal dalam berbagai peradaban manusia dan digunakan untuk berbagai keperluan antar lain yang paling umum saat ini adalah perhiasan, berbentuk koin emas, industri elektronik, kedokteran atau berbentuk lantakan yang disimpan. Dengan melihat perkembangan dinar emas di Indonesia perlulah kita memahami pengetahuan sekitar emas yang kami tulisakan dibawah ini

Karakteristik fisik dan kimia emas
Simbol kimia emas : Au
Nomor atom : 79
Berat atom :196.967
Berat jenis : 19.32
Daya rentang : 11.9
Titik lebur : 1063 derajat
Kekerasan (brinell) : 25
Keberadaan emas pada kerak bumi : 0.005 bagian per juta
Produksi tambang terestimasi : >100.000 ton sejak dumunculkan

Berat dan Ukuran
1 troy ons : 31,1034 gram
1 troy ons : 480 grain
1 troy ons : 20 punt
1 troy ons : 1,0971 ons avoirdupois (Amerika)
3,75 troy ons : 10 tola (India)
6,02 troy ons : 5 tael (Cina)
32,15 troy ons : 1 metrik ton (1.000 kg)

Untuk dijadikan brang perhiasan, logam mulia perlu dilebur dengan logam lain karena logam mulia, khususnya emas, memiliki sifat yang sangat lunak. Tujuan dari peleburan adalah agar barang menjadi lebih kuat atau untuk menghasilkan warna tertentu sesuai kebutuhan.

Sebagai logam mulia yang lunak maka untuk kepentingan membuat perhiasan emas pun jelas perlu dilebur dengan logam lain. Dalam proses peleburan emas dengan logam lain, kita dapat melihat adanya tiga fenomena utama, yakni perbedaan warna, perbedaan nilai karat, dan ongkos pembuatan.

Perbedaan Warna
Hasil perpaduan emas dengan logam lain akan menghasilkan warna yang berbeda-beda, contohnya adalah sebagai berikut:
Emas Merah: emas murni+tembaga
Emas Kuning: emas murni+perak murni
Emas Putih: emas murni+timah sari + nikel + perak murni
Emas Hijau: emas murni + perak murni + kadmiun + tembaga
Emas Biru: emas murni + besi
Emas Jingga: emas murni + perak murni + tembaga
Emas Coklat: emas murni + palladium + perak murni
Emas Abu-abu: emas murni + tembaga + besi
Emas Ungu: emas murni + alumunium

Perbedaan Nilai Karat
Peleburan emas dengan logam lain dengan sendirinya akan menghasilkan perbandingan kuantum (perbandingan jumlah logam). Perbandingan ini lazim disebut dengan istilah karat. Perbandingan campuran ini memiliki kisaran antara 1 karat sampai 24 karat. Dengan demikian, untuk melihat seberapa besar kemurnian emas yang terkandung, kita dapat mengetahui nilai dari karatnya. Berikut ini adalah jumlah kandungan emas yang dilebur dengan logam lain dalam nilai karat:

24 karat: 24 bagian terdiri dari emas murni.
23 karat: 23 bagian  emas murni+1 bagian dari logam lain.
22 karat: 22 bagian emas murni+2 bagian dari logam lain.
21 karat: 21 bagian  emas murni+3 bagian dari logam lain.
20 karat: 20 bagian emas murni+4 bagian dari logam lain.
19 karat: 19 bagian emas murni+5 bagian dari logam lain.
18 karat: 18 bagian emas murni+6 bagian dari logam lain.
17 karat: 17 bagian emas murni+7 bagian dari logam lain.
16 karat: 16 bagian emas murni+8 bagian dari logam lain.
15 karat: 15 bagian emas murni+9 bagian dari logam lain.
14 karat: 14 bagian emas murni+10 bagian dari logam lain.
12 karat: 12 bagian emas murni+12 bagian dari logam lain.
10 karat: 10 bagian emas murni+14 bagian dari logam lain.
8 karat: 8 bagian emas murni+16 bagian dari logam lain.
6 karat: 6 bagian emas murni+18 bagian dari logam lain.

Karena emas dikenal dan diakui nilainya secara intrinsik di dunia mana ada kadar kemurnian Emas menurut standar umum yang berlaku di dunia yang perlu anda ketahui:

* Emas 24 karat adalah emas murni (99.99%)
* Emas 22 karat memiliki komposisi 91.7% emas,  dicampur bahan lain 8.3% (biasanya perak), ini adalah standar umum untuk kadar yang digunakan oleh koin dinar-dirham Islamic mint Nusantara dengan berat menggunakan standar masa Khalifah Abdul Malik dan Khalifah Umar al-Khattab
* Emas 20 karat memiliki kompoisis 83.3% emas
* Emas 18 karat memiliki komposisi 75% emas
* Emas 16 karat memiliki komposisi 66.6% emas
* Emas 14 karat memiliki komposisi 58.5% emas
* Emas 9 karat memiliki komposisi 37.5% emas

Perilaku Konsumen Muslim dalam Mengkonsumsi Makanan Halal

Pada bulan Juli yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara seminar Sharia Economics Research Day yang diadakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah yang mengambil tema ”Pemasaran Kontemporer Produk Halal dan Keuangan Syariah di Indonesia”. Acara tersebut terbagi dalam dua sesi, sesi pertama membahas mengenai Perilaku Konsumen Muslim dalam Mengkonsumsi Makanan Halal sedangkan sesi kedua membahas mengenai Pengaruh Bauran Pemasaran Dalam Meningkatkan Pendapatan Deposito Mudharabah. Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas terkait dengan sesi pertama.

Pada sesi pertama diketengahkan sebuah penelitian mengenai perilaku konsumen Muslim dalam mengkonsumsi makanan halal, yang mengambil sampel masyarakat Muslim Banten yang dilakukan oleh narasumber sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI yaitu, Dra. Endang Sri Soesilowati, MS, Ph.D.

Melalui penelitiannya tersebut beliau memaparkan bahwa perilaku mengkonsumsi makanan halal belum tentu searah dengan banyaknya penduduk beragama Islam. Dalam arti, bahwa seseorang yang beragama Islam belum tentu bahwa ia akan selalu berperilaku secara Islami, khususnya dalam mengkonsumsi makanan halal.

Dalam penelitian di komunitas muslim Banten menunjukkan bahwa tidak adanya kandungan babi dalam makanan ternyata menempati prioritas tertinggi dalam menentukan krtiteria makanan halal. Selanjutnya diikuti dengan kriteria tidak mengandung alkohol, tidak boleh rusak atau kadaluarsa dan tidak mengandung racun. Namun demikian, dalam hal memilih daging yang akan dikonsumsi, responden lebih mengutamakan daging yang segar dan berkualitas dibandingkan kriteria-kriteria lain seperti cara memotong dan adanya legalisasi halal baik yang hanya berupa tulisan saja maupun bersertifikat LP POM MUI.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa, walaupun 94%  responden menyatakan mengkonsumsi makanan halal adalah sangat penting, namun hanya 70% saja yang menyatakan sangat setuju terhadap sertifikat dari MUI. Oleh karena itu, nampaknya masih perlu dilakukan edukasi atau paling tidak sosialisasi oleh institusi berkepentingan mengenai halal dan haramnya makanan, sehingga pemahaman masyarakat akan hal ini semakin mendalam dan lebih berhati-hati.

Pada kesempatan itu pula, Bapak Ir. H. Setyotomo, SE (Direktur Utama PT AHAD-NET INTERNASIONAL) selaku penanggap  dalam sesi tersebut menyampaikan  bahwa, sekarang ini kita jangan hanya sekedar disibukkan dengan penyediaan produk halal saja, karena sebetulnya sekarang ini sudah banyak tersedia produk-produk halal, justru yang harus diperhatikan sekarang ini adalah bagaimana mengenai supply atau pemasaran dari produk halal tersebut agar lebih mudah sampai dan diterima oleh masyarakat. Karena jangan sampai, kita sibuk dengan penyediaan produk, tapi tidak memperhatikan bagaimana strategi pemasaran produk tersebut, sehingga masyarakat justru lebih senang membeli produk yang belum jelas kehalalannya. Selain itu, beliau juga menyampaikan perlunya pengawasan yang lebih ketat dari MUI terkait dengan penyediaan produk-produk yang ada, agar masyarakat lebih mudah membedakan mana produk halal dan mana yang tidak halal.

(Abu Aulia)

Sumber: AhadNet.com

Upah Terkecil Zaman Rasulullah SAAW dan Kebahagiaan yang Didapatkan

Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslimin untuk bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing, Beliau menyarankan hendaknya tiap-tiap muslim selayaknya dapat memperoleh minimal 1 Dirham dalam sehari. Apabila kurang dari 1 Dirham, maka tidak dapat mencukupi kebutuhan belanja untuk menopang hidup, yang kalau hal ini terjadi secara terus menerus maka ia tergolong kaum dhuafa.

Pada masa Madinah, Rasulullah SAW mengembangkan dua sektor usaha untuk mendongkrak perekonomian Madinah, yaitu sektor perdagangan dan sektor pertanian seperti yang digambarkan oleh Abu Hurairah RA: “Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin sibuk mengurusi perdagangan mereka di pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar sibuk mengelola harta mereka, yakni sibuk bercocok tanam” (Dalam riwayat Muslim dan riwayat Ibnu Sa’ad tertera: mereka sibuk mengelola tanah mereka).

Penetapan Standar Kadar & Timbangan Dinar dan Dirham Islam oleh Rasulullah SAW Baca entri selengkapnya »

Dubes RI Buka Moscow Halal Expo 2010

London (ANTARA) – Dubes RI Moskow, Hamid Awaludin, bersama pimpinan agama Islam membuka pameran produk-produk bersertifikat halal untuk pertama kali dalam sejarah umat Islam Rusia di Crocus Expo, Moskow, mulai 7 hingga 9 Juni mendatang.

“International Moscow Halal Expo 2010” ini diikuti 60 perusahaan berasal dari Rusia, Belarusia, Jerman, Turki, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Indonesia sebagai tanggapan maraknya semangat beragama, ujar Counsellor KBRI Moskow, Penanggung Jawab Pendidikan, Penerangan, dan Sosial Budaya, Aji Surya kepada koresponden ANTARA London, Senin.

Menurut Aji Surya, beberapa negara sedang berpikir-pikir tentang kemungkinan membuat pameran produk halal, umat Islam di Rusia yang sering diasosiasikan sebagai masyarakat komunis, ternyata melangkah lebih maju. Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: